BUKAN Jepang, Belanda, atau Sekutu yang membikin guncang Indonesia yang baru saja benar-benar berdaulat pada kurun 1950-an itu. Semesta terhenyak ketika seorang seniman berseru-seru menggugat kekeramatan lagu kebangsaan: Indonesia Raya. Amir Pasaribu dengan berani menyebut bahwa Indonesia Raya adalah jiplakan, meniru tembang kuno Lekka Lekka atau Pinda Pinda. Menurut Amir, pada 1927 lagu itu direkam dengan judul Indonees Indonees dan pada 28 Oktober 1928, di Kongres Pemuda II di Jakarta, diubah menjadi Indonesia Raya. Continue reading
AMIR PASARIBU, Berpikir Lantas Berseru!
DSM, Pegiat Adat Berkiblat Barat
DATOEK Soetan Maharadja, sebutlah dengan inisial DSM, bersitegang. Saat itu tahun 1905, ketika Perang Rusia-Jepang menuju usai, Kabar Perniagaan menyebut Jepang sebagai kekuatan terbesar di Asia. DSM berang dan menyerang J Pangemanann, editor suratkabar terbitan Batavia milik orang Tionghoa itu. Lewat Tjahaja Sumatra, DSM menyatakan bahwa ia tidak akan pernah peduli kepada orang Asia, melainkan hanya bangsa Melayu.
Tak lama berselang, masih di seputaran tahun 1905, terjadi pula adu kalam yang melibatkan DSM dibantu Liem Soe Hin yang juga dari Tjahaja Sumatra, melawan Dja Endar Moeda, editor Pertja Barat. Ketiga orang ini saling menuduh, merusak popularitas koran lawan. Para wartawan Pertja Barat menyebut DSM dengan istilah Datuk Bangkit dalam artian menghina: bangkit berarti naik, mengulang-ulang keluhan lama. Percekcokan antar jurnalis Sumatera Barat itu lebih disebabkan karena persaingan memerebutkan pasar. Continue reading
Tarik Ulur ISLAM dan MELAYU
SUDAH menjadi hal yang jamak bagi sebagian orang bahwa Melayu sangat lekat dengan agama Islam. Alih-alih kalangan awam, mayoritas orang Melayu sendiri meyakini bahwa Melayu dan Islam adalah “dwitunggal” yang tidak dapat atau tidak boleh dipisahkan. Islam adalah agama wajib bagi orang Melayu, dan sebaliknya, setiap orang yang mengaku Melayu harus beragama Islam. Continue reading
HARMOKO, “Menurut Petunjuk Bapak Presiden…”
SUARA Harmoko kecil melantun keras, membacakan berita dari suratkabar yang dibawa para Tentara Pelajar di pengungsian. Ia memang diminta melakukan hal tersebut. “Coba baca ini, apa isinya?” pinta seorang tentara republik. Kala itu adalah masa revolusi fisik. Tentara dan rakyat bahu-membahu menangkal serangan Belanda yang ingin menguasai kembali Indonesia. Koran yang dibacakannya tersebut, seingat Harmoko yang waktu itu masih duduk di kelas dua Sekolah Rakyat, adalah suratkabar terbitan Surabaya yang diterbitkan Dr Soetomo.
Sedari belia, Harmoko bercita-cita membuat koran, bukannya menjadi tentara seperti kebanyakan anak-anak lain. “Mungkin karena melihat orang-orang mendengar berita yang saya baca semuanya manthuk-manthuk (mengangguk-angguk). Saya lantas berpikir, wah barang ini fungsinya besar sekali. Hebat benar, dari selembar kertas saja orang jadi tahu,” kenang Harmoko. Continue reading
FARID HARDJA, Gerak Lentur Sang Penghibur
MULANYA ia muncul dengan ciri khas kepala botak berambut tebal di sisi atas, kanan, dan kirinya. Kacamata yang dikenakannya pun dibikin semirip mungkin dengan Elton John yang sedang jaya-jayanya di dekade 1960-an itu. Beberapa tahun kemudian, penampilannya berubah, rambutnya menggumpal alias kribo. Metamoforsa itu terus berlanjut hingga akhirnya ia lekat sebagai penyanyi bertubuh tambun dan berjubah besar dengan motif warna-warni. Tampilan barunya ini sepertinya menggambarkan beragam jenis musik yang pernah dan akan dijajalnya, dari rock & roll, jazz, balada, pop, disko, reggae, hingga dangdut. Continue reading
NJOTO: Kalau Sport Sudah Politik, Apalagi Sastra dan Seni!
HARIAN RAKJAT edisi 4 Maret 1964 memuat ultimatum Njoto, ”Barang siapa masih berkata djuga bahwa seni itu ‘non-politik’, sesungguhnja dia itu reaksioner.” Bukan saja jurnalistik, lanjut Njoto, tetapi sport (olahraga) pun tidak bisa disangkal lagi bertautan erat sekali dengan politik. “Kalau sport sudah politik, apalagi sastra dan seni!” seru Pemimpin Redaksi Harian Rakjat milik Partai Komunis Indonesia (PKI) itu berapi-api. Continue reading
Menelusuri Kemasyhuran Leluhur Timor
BUKU INI bisa menjadi referensi yang cukup penting karena sumber-sumber cetak tentang sejarah Timor masih sangat terbatas. Apalagi penulis buku ini, Don Yesriel Yohan Kusa Banunaek, adalah putra dari raja terakhir Amanatun, salah satu kerajaan yang mengawali sejarah Timor, sehingga kapabilitas buku ini cukup bisa dipertanggungjawabkan. Continue reading
Diplomasi Agus Salim, Dari Minang Merangkul Dunia
Apa sebab Agus Salim sangat piawai berbicara dan berdiplomasi? Oleh sejarawan Mestika Zed, pertanyaan tersebut terjawab, bahwa kemahiran Agus Salim dalam mengolah kalimat tidak lepas dari asal tanah kelahirannya, yakni Minangkabau. Agus Salim, anak Melayu kelahiran Koto Gadang, Sumatra Barat, sangat menyadari bakat lahirnya sebagai putra daerah dari negeri kata-kata –julukan yang disematkan untuk Minangkabau. Continue reading
Batik Mahakarya Budaya Dunia

KEPUTUSAN badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menangani bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, dan budaya, UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) yang belum lama ini menetapkan secara resmi diakuinya batik nusantara sebagai warisan budaya dunia, tentu saja menjadi prestasi dan kebanggaan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Continue reading
Revolusi di Negeri Sombrero
JAUH sebelum kedatangan bangsa Spanyol, wilayah Meksiko telah dihuni oleh beberapa kebudayaan lokal. Pra masehi, di Anahuac, yang terletak di Lembah Meksiko, telah berkembang suatu peradaban dimotori oleh suku Teotihuanacos. Suku ini terkenal mahir membangun piramida. Piramida yang paling legendaris adalah The Pyramide of The Sun (Piramida Matahari) di San Juan Teotihuacan, yang dibangun sekitar tahun 31 sebelum masehi. >>>
