SUARA Harmoko kecil melantun keras, membacakan berita dari suratkabar yang dibawa para Tentara Pelajar di pengungsian. Ia memang diminta melakukan hal tersebut. “Coba baca ini, apa isinya?” pinta seorang tentara republik. Kala itu adalah masa revolusi fisik. Tentara dan rakyat bahu-membahu menangkal serangan Belanda yang ingin menguasai kembali Indonesia. Koran yang dibacakannya tersebut, seingat Harmoko yang waktu itu masih duduk di kelas dua Sekolah Rakyat, adalah suratkabar terbitan Surabaya yang diterbitkan Dr Soetomo. Baca entri selengkapnya »

MULANYA ia muncul dengan ciri khas kepala botak berambut tebal di sisi atas, kanan, dan kirinya. Kacamata yang dikenakannya pun dibikin semirip mungkin dengan Elton John yang sedang jaya-jayanya di dekade 1960-an itu. Beberapa tahun kemudian, penampilannya berubah, rambutnya menggumpal alias kribo. Metamoforsa itu terus berlanjut hingga akhirnya ia lekat sebagai penyanyi bertubuh tambun dan berjubah besar dengan motif warna-warni. Tampilan barunya ini sepertinya menggambarkan beragam jenis musik yang pernah dan akan dijajalnya, dari rock & roll, jazz, balada, pop, disko, reggae, hingga dangdut. Baca entri selengkapnya »

HARIAN RAKJAT edisi 4 Maret 1964 memuat ultimatum Njoto, ”Barang siapa masih berkata djuga bahwa seni itu ‘non-politik’, sesungguhnja dia itu reaksioner.” Bukan saja jurnalistik, lanjut Njoto, tetapi sport (olahraga) pun tidak bisa disangkal lagi bertautan erat sekali dengan politik. “Kalau sport sudah politik, apalagi sastra dan seni!” seru Pemimpin Redaksi Harian Rakjat milik Partai Komunis Indonesia (PKI) itu berapi-api. Baca entri selengkapnya »

BUKU INI bisa menjadi referensi yang cukup penting karena sumber-sumber cetak tentang sejarah Timor masih sangat terbatas. Apalagi penulis buku ini, Don Yesriel Yohan Kusa Banunaek, adalah putra dari raja terakhir Amanatun, salah satu kerajaan yang mengawali sejarah Timor, sehingga kapabilitas buku ini cukup bisa dipertanggungjawabkan. Baca entri selengkapnya »

Apa sebab Agus Salim sangat piawai berbicara dan berdiplomasi? Oleh sejarawan Mestika Zed, pertanyaan tersebut terjawab, bahwa kemahiran Agus Salim dalam mengolah kalimat tidak lepas dari asal tanah kelahirannya, yakni Minangkabau. Agus Salim, anak Melayu kelahiran Koto Gadang, Sumatra Barat, sangat menyadari bakat lahirnya sebagai putra daerah dari negeri kata-kata –julukan yang disematkan untuk Minangkabau. Baca entri selengkapnya »

Foto 3 - Peragaan Busana Batik Nusantara

KEPUTUSAN badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menangani bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, dan budaya, UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) yang belum lama ini menetapkan secara resmi diakuinya batik nusantara sebagai warisan budaya dunia, tentu saja menjadi prestasi dan kebanggaan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Baca entri selengkapnya »

JAUH sebelum kedatangan bangsa Spanyol, wilayah Meksiko telah dihuni oleh beberapa kebudayaan lokal. Pra masehi, di Anahuac, yang terletak di Lembah Meksiko, telah berkembang suatu peradaban dimotori oleh suku Teotihuanacos. Suku ini terkenal mahir membangun piramida. Piramida yang paling legendaris adalah The Pyramide of The Sun (Piramida Matahari) di San Juan Teotihuacan, yang dibangun sekitar tahun 31 sebelum masehi. >>>

cipto 2

TJIPTO menggugat, menikam kemapanan penguasa Surakarta. Serangan pertama Tjipto dilancarkan lewat Panggoegah, media berbahasa Jawa yang dipimpinnya. Pada edisi 9 Juni 1919, Tjipto mengatakan, masyarakat sangat terbebani oleh kewajiban memelihara dua kraton, Kasunanan dan Mangkunegaran. Tjipto lantas mengusulkan supaya Sunan, juga Mangkunegara, dipensiun saja dan diberi gaji bulanan 2000 gulden. Dalam Panggoegah 16 Juni 1919, Tjipto menulis bahwa Amangkurat II beserta keturunannya adalah budak-budak feodal kolonialis Belanda. >>>

diskusi BKPBM DALAM rumpun masyarakat Austronesia, di mana peradaban Melayu termasuk juga di dalamnya, terdapat beberapa kesamaan keyakinan perihal asal-usul leluhurnya, yakni kepercayaan bahwa leluhur, yang kemudian dipercaya sebagai dewa atau titisan dewa, berasal dari atas, turun dari langit. Demikian pula dengan apa yang dianut masyarakat adat di Pulau Nias, Sumatra Utara. Bahkan, terdapat lebih dari satu mitos tentang leluhur yang diyakini warga Nias sebagai pijakan dasar kepercayaannya. Di antara mitos-mitos yang berkembang di Nias tersebut, terdapat beberapa ritual yang mengalami perkembangan dan penyesuaian dengan peradaban zaman agar bisa tetap dilestarikan sampai di era kekinian. >>>

Namakoe Semaoen

30 Agustus 2009

Semaoen JAQUES PANGEMANANN sudah lama mengamati anak muda bertampang Jawa itu: seorang pemuda kerempeng dengan tubuh yang tak begitu tegap, bercelana panjang serta kemeja pendek, semuanya serba putih. Dengan gesit, anak itu menghidangkan teh. Setelah meletakkan gelas terakhir, ia berdiri tegak, berucap sambutan selamat datang dengan bahasa Belanda yang fasih. Lantas, ia membungkuk, memperkenalkan diri: “Namakoe Semaoen.” >>>