DATOEK Soetan Maharadja, sebutlah dengan inisial DSM, bersitegang. Saat itu tahun 1905, ketika Perang Rusia-Jepang menuju usai, Kabar Perniagaan menyebut Jepang sebagai kekuatan terbesar di Asia. DSM berang dan menyerang J Pangemanann, editor suratkabar terbitan Batavia milik orang Tionghoa itu. Lewat Tjahaja Sumatra, DSM menyatakan bahwa ia tidak akan pernah peduli kepada orang Asia, melainkan hanya bangsa Melayu.
Tak lama berselang, masih di seputaran tahun 1905, terjadi pula adu kalam yang melibatkan DSM dibantu Liem Soe Hin yang juga dari Tjahaja Sumatra, melawan Dja Endar Moeda, editor Pertja Barat. Ketiga orang ini saling menuduh, merusak popularitas koran lawan. Para wartawan Pertja Barat menyebut DSM dengan istilah Datuk Bangkit dalam artian menghina: bangkit berarti naik, mengulang-ulang keluhan lama. Percekcokan antar jurnalis Sumatera Barat itu lebih disebabkan karena persaingan memerebutkan pasar.
Melalui Tjahaja Sumatra pula, kali ini pada awal 1909, DSM mengeluhkan minimnya sekolah untuk anak-anak pribumi. DSM mengatakan, pemerintah bisa membuktikan ketulusannya terhadap rakyat yang dijajah dengan membangun lebih banyak sekolah dan memerluas kesempatan pendidikan bagi pribumi. DSM memang sangat peduli dengan pendidikan pribumi, karenanya Ia mendirikan sekolah anak laki-laki pada 1902.
Jauh sebelumnya, pada 1893 ketika bekerja di suratkabar terbitan Padang, Palita Ketjil, DSM tersandung kasus: artikelnya dipersalahkan karena dianggap menyerang pemerintah. Dua tulisan DSM yang disengketakan itu berjudul “Kesengsaraan dan Perlindungan Rakyat Biasa” serta “Pikiran Orang Aceh”. Menurut hukum yang berlaku kala itu, pelanggaran semacam itu bisa dikenakan sanksi penjara satu bulan dan denda sebesar fl 100, ancaman yang membuat DSM naik banding ke Mahkamah Agung di Batavia. Namun, akhir dari kasus ini tidak diketahui kelanjutannya.
Datoek Soetan Maharadja lahir di Padang pada 27 Nopember 1862 dengan nama asli Mahjoedin. Sebagai bangsawan, ia menyandang gelar penghulu warisan dari ayahandanya, Datoek Bendaharoe. Pada 1876, DSM menjadi magang jaksa di Padang dan tiga tahun kemudian menjadi kerani di kantor jaksa. Ia dipromosikan sebagai ajun jaksa di Indrapura pada 1882. Setahun berikutnya, DSM kembali ke Padang sebagai ajun jaksa kepala, hingga dipindahkan ke Pariaman pada 1888. Di tahun yang sama, DSM diangkat menjadi jaksa di Pariaman dan berhenti pada 1892.
Selepas itu, DSM mudik ke Padang dan banting setir menjadi seorang jurnalis. Pertama-tama, ia bekerja untuk suratkabar Palita Ketjil sebagai editor, juga ketika koran ini berganti nama menjadi Warta Berita pada 1895-1897. Sekurun 1901-1904, DSM menjadi koresponden untuk suratkabar Bintang Hindia dan majalah Insulinde. Setelah itu, ia lama berkecimpung selaku editor di Tjahaja Sumatra hingga 1910.
Terobsesi memunyai koran sendiri setelah sekian lama bekerja untuk suratkabar milik orang asing, DSM menerbitkan Otoesan Melajoe pada awal 1911. Koran ini segera menjadi mulut perlawanan DSM terhadap kaum ulama dan angkatan muda Minangkabau. Duel paling seru di antara mereka terjadi pada kurun 1911-1913. Kubu ulama muda menerbitkan jurnal Al-Moenir pada April 1911 sebagai penangkal Otoesan Melajoe. Al-Moenir memuat tulisan tentang semua yang dianggap tabu kaum adat, dan sebaliknya, DSM tak henti-hentinya menyerang musuhnya dengan menyebut mereka sebagai kaum Padri.
Permusuhan DSM terhadap kaum ulama berawal dari Perang Padri, ketika kakek buyutnya dari garis ayah dibunuh oleh kaum Padri. DSM, yang berasal dari kaum Adat, mengklaim para ulama yang kembali dari Timur Tengah sebagai penerus Padri yang berusaha mengembalikan kejayaan mereka di ranah Minang. Melalui Otoesan Melajoe, DSM mengingatkan pembaca agar tidak membiarkan kemerdekaan mereka dirampas oleh “orang-orang Mekkah” tersebut. Saking bencinya, DSM bahkan menyatakan keberatannya terhadap rencana pemerintah memasukkan pelajaran agama ke sekolah-sekolah pribumi. Menurut DSM, itu tidak praktis dan sebaiknya diserahkan kepada prakarsa rakyat. Kendati cukup moderat akan kemajuan dan perubahan, dalam konteks kasus dengan kaum ulama, DSM justru menganjurkan kembali ke adat Minangkabau asli.
Kendati bertipikal keras, DSM ternyata sangat memerhatikan emansipasi perempuan. Pada 1908, DSM memprakarsai Pekan Raya Melayu di mana ia memerkenalkan sekolah penenun pertama untuk perempuan, Padangsche Weefschool. Selanjutnya pada 1912, DSM memelopori kampanye untuk meningkatkan status kaum hawa melalui perluasan kesadaran dan pendidikan. Realisasi dari upaya itu, DSM sekali lagi membangun sekolah-sekolah tenun di beberapa tempat di Sumatera Barat.
Selain itu, ia menggagas Soenting Melajoe pada 10 Juli 1912. Di bawah arahan DSM, Soenting Melajoe dihajatkan sebagai suratkabar perempuan reformis untuk mengejar kemajuan dan perbaikan nasib mereka. DSM menunjuk anak gadisnya, Zoebaidah Ratna Djoewita, dan Siti Rohana Koedoes, pelopor pendidikan perempuan Sumatera, duduk di keredaksian.
Selain sebagai pelopor jurnalisme awal, DSM juga sangat aktif di dunia pergerakan lokal Melayu. Pada akhir 1880, ia mengetuai gerakan Medan Perdamaian. Selain itu, semasa bertugas di Pariaman pada 1888, DSM mendirikan Medan Keramean yang bertujuan mengarahkan minat dan kepentingan anggotanya ke jalan yang benar. Pada 1906, DSM membentuk Medan Perdamaian Minangkabau Laras nan Duo di Padang dan memprakarsai gerakan memurnikan adat Minangkabau. Pada 1911, ia membentuk Perserikatan Orang Alam Minangkabau serta Sarekat Adat Alam Minangkabau (SAAM) pada September 1916.
Bagaikan orang yang hidup dalam dua dunia, DSM adalah seorang konservatif tentang adat sebagai pengikat rakyat Minangkabau, tetapi sekaligus juga orang modern dalam keyakinannya bahwa pendidikan merupakan sarana yang paling penting untuk mencapai kemajuan. DSM menganjurkan kemajuan Melayu melalui pendidikan Barat. Inilah yang membuatnya diberi gelar penggagas dan penghulu pandangan sekuler kaum muda.
Kedudukan DSM sebagai aristokrat dan pemuka adat membuat perannya sangat berpengaruh. Terlebih lagi DSM cukup dekat dengan Belanda, yang kemudian membuatnya menjadi bulan-bulanan, termasuk dari orang-orang Jong Sumatera dan pergerakan intelektual lainnya. Apapun bentuk gerakannya, kiprah DSM bagi dunia pergerakan dan jurnalisme nasional, khususnya di Sumatera, menjadi fakta positif yang tak terbantahkan. DSM meninggal dunia pada 1921. (Iswara N Raditya)
Oktober 30th, 2010 at 2:49 pm
Kalau DSM hidup pada zaman sekarang, tentu dia akan menjadi sekutu GM yang kuat. Pandangannya yang negatif tentang “orang-orang Mekkah” bahkan hampir mirip dengan visi Gus Dur tentang Islam yang khas Indonesia. Sayangnya, dalam situasi Indonesia yang merdeka, pandangan yang sinis terhadap elit agama sering bisa berubah menjadi senjata makan tuan: kelompok fundamentalis dan skripturalis akan segera menuduh orang-orang yang punya pandangan seperti DSM sebagai bidah, sesat, bahkan kafir.