AMIR PASARIBU, Berpikir Lantas Berseru!

Amir Pasaribu BUKAN Jepang, Belanda, atau Sekutu yang membikin guncang Indonesia yang baru saja benar-benar berdaulat pada kurun 1950-an itu. Semesta terhenyak ketika seorang seniman berseru-seru menggugat kekeramatan lagu kebangsaan: Indonesia Raya. Amir Pasaribu dengan berani menyebut bahwa Indonesia Raya adalah jiplakan, meniru tembang kuno Lekka Lekka atau Pinda Pinda. Menurut Amir, pada 1927 lagu itu direkam dengan judul Indonees Indonees dan pada 28 Oktober 1928, di Kongres Pemuda II di Jakarta, diubah menjadi Indonesia Raya. Baca lebih lanjut

Iklan

Tarik Ulur ISLAM dan MELAYU

SUDAH menjadi hal yang jamak bagi sebagian orang bahwa Melayu sangat lekat dengan agama Islam. Alih-alih kalangan awam, mayoritas orang Melayu sendiri meyakini bahwa Melayu dan Islam adalah “dwitunggal” yang tidak dapat atau tidak boleh dipisahkan. Islam adalah agama wajib bagi orang Melayu, dan sebaliknya, setiap orang yang mengaku Melayu harus beragama Islam. Baca lebih lanjut

HARMOKO, “Menurut Petunjuk Bapak Presiden…”

SUARA Harmoko kecil melantun keras, membacakan berita dari suratkabar yang dibawa para Tentara Pelajar di pengungsian. Ia memang diminta melakukan hal tersebut. “Coba baca ini, apa isinya?” pinta seorang tentara republik. Kala itu adalah masa revolusi fisik. Tentara dan rakyat bahu-membahu menangkal serangan Belanda yang ingin menguasai kembali Indonesia. Koran yang dibacakannya tersebut, seingat Harmoko yang waktu itu masih duduk di kelas dua Sekolah Rakyat, adalah suratkabar terbitan Surabaya yang diterbitkan Dr Soetomo.

Sedari belia, Harmoko bercita-cita membuat koran, bukannya menjadi tentara seperti kebanyakan anak-anak lain. “Mungkin karena melihat orang-orang mendengar berita yang saya baca semuanya manthuk-manthuk (mengangguk-angguk). Saya lantas berpikir, wah barang ini fungsinya besar sekali. Hebat benar, dari selembar kertas saja orang jadi tahu,” kenang Harmoko. Baca lebih lanjut

FARID HARDJA, Gerak Lentur Sang Penghibur

MULANYA ia muncul dengan ciri khas kepala botak berambut tebal di sisi atas, kanan, dan kirinya. Kacamata yang dikenakannya pun dibikin semirip mungkin dengan Elton John yang sedang jaya-jayanya di dekade 1960-an itu. Beberapa tahun kemudian, penampilannya berubah, rambutnya menggumpal alias kribo. Metamoforsa itu terus berlanjut hingga akhirnya ia lekat sebagai penyanyi bertubuh tambun dan berjubah besar dengan motif warna-warni. Tampilan barunya ini sepertinya menggambarkan beragam jenis musik yang pernah dan akan dijajalnya, dari rock & roll, jazz, balada, pop, disko, reggae, hingga dangdut. Baca lebih lanjut

NJOTO: Kalau Sport Sudah Politik, Apalagi Sastra dan Seni!

HARIAN RAKJAT edisi 4 Maret 1964 memuat ultimatum Njoto, ”Barang siapa masih berkata djuga bahwa seni itu ‘non-politik’, sesungguhnja dia itu reaksioner.” Bukan saja jurnalistik, lanjut Njoto, tetapi sport (olahraga) pun tidak bisa disangkal lagi bertautan erat sekali dengan politik. “Kalau sport sudah politik, apalagi sastra dan seni!” seru Pemimpin Redaksi Harian Rakjat milik Partai Komunis Indonesia (PKI) itu berapi-api. Baca lebih lanjut

Menelusuri Kemasyhuran Leluhur Timor

BUKU INI bisa menjadi referensi yang cukup penting karena sumber-sumber cetak tentang sejarah Timor masih sangat terbatas. Apalagi penulis buku ini, Don Yesriel Yohan Kusa Banunaek, adalah putra dari raja terakhir Amanatun, salah satu kerajaan yang mengawali sejarah Timor, sehingga kapabilitas buku ini cukup bisa dipertanggungjawabkan. Baca lebih lanjut

Diplomasi Agus Salim, Dari Minang Merangkul Dunia

Apa sebab Agus Salim sangat piawai berbicara dan berdiplomasi? Oleh sejarawan Mestika Zed, pertanyaan tersebut terjawab, bahwa kemahiran Agus Salim dalam mengolah kalimat tidak lepas dari asal tanah kelahirannya, yakni Minangkabau. Agus Salim, anak Melayu kelahiran Koto Gadang, Sumatra Barat, sangat menyadari bakat lahirnya sebagai putra daerah dari negeri kata-kata –julukan yang disematkan untuk Minangkabau. Baca lebih lanjut

Batik Mahakarya Budaya Dunia

Foto 3 - Peragaan Busana Batik Nusantara

KEPUTUSAN badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menangani bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, dan budaya, UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) yang belum lama ini menetapkan secara resmi diakuinya batik nusantara sebagai warisan budaya dunia, tentu saja menjadi prestasi dan kebanggaan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Baca lebih lanjut

Revolusi di Negeri Sombrero

JAUH sebelum kedatangan bangsa Spanyol, wilayah Meksiko telah dihuni oleh beberapa kebudayaan lokal. Pra masehi, di Anahuac, yang terletak di Lembah Meksiko, telah berkembang suatu peradaban dimotori oleh suku Teotihuanacos. Suku ini terkenal mahir membangun piramida. Piramida yang paling legendaris adalah The Pyramide of The Sun (Piramida Matahari) di San Juan Teotihuacan, yang dibangun sekitar tahun 31 sebelum masehi. >>>

Akoe Adalah Anak Rakjat, Anak Si Kromo!

cipto 2

TJIPTO menggugat, menikam kemapanan penguasa Surakarta. Serangan pertama Tjipto dilancarkan lewat Panggoegah, media berbahasa Jawa yang dipimpinnya. Pada edisi 9 Juni 1919, Tjipto mengatakan, masyarakat sangat terbebani oleh kewajiban memelihara dua kraton, Kasunanan dan Mangkunegaran. Tjipto lantas mengusulkan supaya Sunan, juga Mangkunegara, dipensiun saja dan diberi gaji bulanan 2000 gulden. Dalam Panggoegah 16 Juni 1919, Tjipto menulis bahwa Amangkurat II beserta keturunannya adalah budak-budak feodal kolonialis Belanda. >>>